BASKA STORY
Potret dari tiga linimasa · 28 Oktober 2026

Di Antara Candaan, Perjalanan, dan Karya

Seorang penulis kalimat pendek, penyimpan perjalanan, dan pembuat alat yang ingin berguna.

FacebookInstagramXArsip publik terbatas

Potret naratif Lathif Baska dari jejak publik Facebook, Instagram, dan X yang dapat diakses pada 28 Oktober 2026.

Sebuah pintu bernama candaan

Pada bio Facebook-nya, Lathif Baska memasang pagar kecil sebelum orang membaca lebih jauh: “Just Fun”, “DILARANG BAPER”. Ia mengaku kadang lucu, kadang garing, kadang tidak jelas. Pagar itu seperti undangan untuk mengenal seseorang yang senang bermain dengan kata, tetapi juga cara mengingatkan pembaca agar tidak menyamakan setiap kalimat di linimasa dengan pengakuan hidup.

Jejak digital yang paling panjang umurnya di antara tiga tautan itu adalah X. Profil @LathifBaska mencatat akun tersebut bergabung pada Januari 2012 dan kini memakai nama tampilan “Jadi Gini Loh,” dengan keterangan “Aku, dunia dan dengan segala persoalan.” Ribuan unggahan tertera di sana. Namun arsip awalnya tidak terbuka penuh tanpa masuk ke X. Karena itu, kita tidak bisa bercerita jujur tentang apa yang ia tulis pada 2012 hingga 2022. Yang bisa kita lihat adalah seseorang yang telah lama menyediakan ruang untuk berbicara, lalu potongan suaranya yang muncul kemudian.

Kalimat pendek, banyak nada

Pada Januari 2023, Facebook memperlihatkan rentetan unggahan hampir setiap hari. Bentuknya pendek: kalimat pembuka yang terdengar serius, lalu belokan kecil yang membuatnya menjadi lelucon. Perbedaan kebiasaan tidur dengan lampu menyala dan padam diselesaikan dengan “lampu disko”. Pernyataan bahwa akun itu hanya untuk candaan diikuti alasan bahwa yang serius adalah hubungan. Ada rayuan, permainan logika, dan humor yang sengaja ringan. Bila linimasa itu sebuah ruang tamu, Lathif memilih membuka pintunya dengan membuat orang tersenyum.

Tetapi satu orang dapat berbicara dalam lebih dari satu nada. Di X pada Maret hingga Juli 2023, ia menulis tentang pasangan yang berbeda selera, perkawinan yang mempertemukan dua orang yang tidak sama, keluarga, dan kehati-hatian terhadap utang. Unggahan tersebut tidak membuktikan pengalaman tertentu yang ia alami sendiri. Namun sebagai pilihan topik, ia menunjukkan perhatian pada hubungan, tanggung jawab, dan akibat keputusan sehari-hari. Persona “Jadi Gini Loh,” terdengar seperti kawan yang ingin menyampaikan satu gagasan sebelum percakapan berpindah ke hal lain.

Tempat yang mengikat, tempat yang dilalui

Ada dua nama tempat yang mengikat profilnya: Karawang, yang ia cantumkan sebagai asal, dan Bandung, yang ia cantumkan sebagai tempat tinggal. Di Facebook ia juga menulis pernah bekerja di bidang administrasi dan mengajar di SMK Mitra Indonesia, serta mencantumkan peran sebagai pemilik Digital Freelancer dan penulis kreatif di media sosial. Ini adalah keterangan profil, bukan riwayat kerja yang saya verifikasi secara terpisah. Meski demikian, perpaduannya masuk akal dengan yang terlihat di unggahan: seseorang yang suka menyusun kalimat dan kemudian semakin sering menunjukkan benda yang ia buat.

Instagram menyajikan sisi lain. Bio-nya menyebut “GALERI PERJALANAN” dan “Active, just rarely updated”. Pada Oktober 2023, sebuah foto di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, diberi keterangan bahwa teman bepergiannya kini bukan hanya kamera. Pada Desember, ia menyebut dua tempat bersama orang yang sama: Padalarang dan Pangalengan. Saat memasuki 2024, ia menulis bahwa 2023 berlalu cepat dan mengajak diri memulai lagi. Tempat-tempat dalam unggahan berikutnya bergerak di sekitar Jawa Barat: Bandung, Karawang, Sumedang, Bogor, dan Cianjur. Instagram di sini berfungsi seperti album yang diberi tanda lokasi dan secuil kalimat renungan, bukan buku harian yang mengungkap semua peristiwa.

Dalam album itu, ada kalimat tentang keyakinan kepada Tuhan, tentang perilaku dan keluarga, tentang perbedaan, dan tentang cara memperlakukan orang yang dekat. Beberapa foto diberi tanda religius; satu unggahan dengan jujur menjelaskan bahwa bagian langit pada foto telah memakai AI dan sedikit mengubah struktur bangunan. Kebiasaan kecil itu menarik: ia ingin gambar tampak indah, tetapi juga memberi tahu pembaca ketika gambar telah diolah. Dari yang terlihat, perjalanan, kata-kata, dan eksperimen visual berjalan berdampingan.

Orang yang berjalan bersama

Nama Devi Sulastri muncul jelas dalam profil Facebook sebagai pasangan yang dinikahi, juga ditandai di bio Instagram. Karena itu, ia bukan tokoh yang perlu ditebak dari keterangan foto. Hubungan tersebut menjadi salah satu garis yang tampak berulang: dari lelucon tentang hidup berdua, tulisan tentang menerima perbedaan, hingga perjalanan yang dibagikan lewat foto. Di luar itu, komentar publik yang terbaca hanya memberi contoh obrolan ringan dengan pembaca. Jejak yang tersedia belum cukup untuk memetakan lingkaran teman, keluarga, atau seluruh orang penting dalam hidupnya.

Dari kata menuju karya

Pada Agustus 2025, Facebook menampilkan wajah lain dari akun ini. Lathif memperkenalkan dua bot Telegram yang ia buat: KuisinGo, untuk kuis berkategori dan sistem poin, serta AlquranGo, yang menyediakan 114 surah, teks Arab, terjemahan, transliterasi, dan audio. Ia juga menyebut fitur yang masih akan datang dan mengundang saran pengguna. Setelah rangkaian candaan dan perjalanan, unggahan itu memberi bentuk konkret pada peran “kreator digital” yang ia tulis di profil. Ada keinginan agar sesuatu yang dibuat dapat dipakai orang lain.

Sebuah potret yang belum selesai

Jika ketiga linimasa disatukan, karakter yang muncul bukan satu label tunggal. Facebook memperlihatkan penggoda suasana dan pembuat alat; X memperlihatkan penulis kalimat pendek tentang hidup bersama; Instagram memperlihatkan orang yang menyimpan tempat, gambar, dan momen bersama pasangan. Ada humor yang membuat jarak terasa dekat, ada renungan yang tidak selalu perlu dijelaskan panjang, dan ada proyek teknis yang memperlihatkan kegemaran membangun.

Cerita ini berhenti pada batas arsip yang bisa dibuka, bukan pada akhir perjalanan Lathif. Unggahan X paling baru yang terlihat dalam penelusuran ini bertanggal 15 Juli 2023, Instagram 1 Maret 2025, dan Facebook 22 Agustus 2025. Itu bukan bukti bahwa akun tidak diperbarui setelah tanggal-tanggal tersebut. Tahun-tahun yang tertutup, unggahan dengan batas privasi, story yang sudah hilang, dan kehidupan di luar layar tetap berada di tangan pemiliknya. Dari bagian yang tampak, satu benang merah cukup kuat: Lathif memakai ruang digital untuk membuat orang tersenyum, mengingat orang yang berjalan bersamanya, dan membagikan hasil kerja yang ia harap bermanfaat.


Catatan: Naskah ini adalah potret naratif berbasis unggahan yang dapat diakses, bukan biografi lengkap atau penilaian psikologis. Semua rincian waktu, peran, dan hubungan diuraikan beserta batas buktinya dalam catatan riset.

Bagaimana cerita ini disusun?

Lihat urutan waktu, tautan unggahan, dan hal yang belum dapat dipastikan.

Baca catatan sumber ↗